Sabtu, 23 November 2013

Hujan, Angin, dan Kita



Hai hujan, nampaknya akhir-akhir ini kita sering berjumpa. Ya, aku memang sering menemukanmu sepulang sekolah, tentunya bersama angin.
Terkadang aku iri, melihatmu, melihat kalian, hujan dan angin. Tak pernah aku melihatmu tanpa angin, ketika kamu datang, tak jauh disana, ada angin yang berhembus, ada angin yang selalu

menyibakkan bau tanahmu ke lubang hidungku, ada angin yang selalu mendukungmu dan menemanimu kemana saja kau pergi. Ah, bau tanahmu,rintikanmu, awan mendungmu, dan semua yang kamu timbulkan mengingatkanku pada masa-masa lampauku.

Ya, itu hanya masa lampauku, namun entah kenapa otakku tak bisa menghapusnya meskipun telah beribu memori yang mengerubunginya. Aku selalu ingat saat aku dan dia, yang bisa disebut “kita” (dulu), saat menerobos hujan dan angin yang sedang melawan kita bersama, saat menunggu amarah hujan dan angin reda, dan saat menikmati hujan dan angin yang sedang bercanda tawa.
Ah, kenangan lampau itu tak bisa membuatku nyaman, dia selalu saja menghantuiku saat hujan dan angin tiba, dan aku iri saat mereka selalu bersama. Meskipun angin bisa berhembus tanpa hujan, tapi hujan seperti tak bisa tanpa angin. Sama halnya sepertiku, meskipun semua itu tidak bisa dibilang sama. Kadang aku seperti angin, kadang juga sepertimu, hujan. Aku bisa tanpa dia,hari-hariku selalu kujalani tanpanya, namun aku tak bisa membohongi hati kecilku, selalu saja ada perasaan yang entah mengapa ingin aku dan dia layaknya hujan dan angin. Dan sepertinya, kita tak bisa seperti hujan dan angin, karena sampai sekarang pun aku masih menjadi gantungan yang kaujemur dan tak kunjung kering~

Wind~

0 komentar:

Posting Komentar